KENDARI - Partai Gerakan Mandiri Bangsa (Gema Bangsa) resmi mendeklarasikan diri secara nasional pada 17 Januari 2026 di Jakarta Convention Center. Terhitung baru lahir, namun sudah mengguncang dunia perpolitikan nasional. Saat deklarasi, Ketua Umum Ahmad Rofiq mengumumkan dukungan untuk Capres 2029 kepada Prabowo Subianto. Memancing banyak reaksi, karena Parpol pertama yang menyatakan hal itu.
Narasi utama yang diusung Gema Bangsa adalah Desentralisasi Politik. Artinya, di tataran daerah, Gema Bangsa memberikan keleluasaan kepada DPW maupun DPD untuk menyatakan dukungannya kepada calon kepala daerah masing-masing. Bahkan menunjukkan sikap sendiri untuk berada di sisi pemerintah atau oposisi. Tidak lagi bergantung pada arahan DPP.
Bagaimana sikap DPW Sulawesi Tenggara?
Sabtu, 7 Februari 2026, pengurus DPW Partai Gema Bangsa Sultra terpantau berkunjung ke kediaman mantan gubernur Nur Alam di Kendari. Bapak pembangunan Sulawesi Tenggara itu pun menyambut hangat kedatangan partai biru kuning tersebut. Perbincangan hangat pun terjadi, canda dan berbagi inspirasi mengalir dengan santai.
Lantas, apakah keakraban ini menjadi pertanda Partai Gema Bangsa jalan bareng Nur Alam? Sebagaimana isu yang mencuat di publik Sultra, Nur Alam tercap sebagai oposisi pemerintah saat ini (ASR-Hugua).
Ketua DPW Gema Bangsa Sultra, Aryo Wira Setiawan menampik hal itu. Kepada media, ia mengaku kunjungan ke kediaman Nur Alam semata sebagai silaturahim kepada salah satu tokoh politik Sultra. Tidak hanya NA, bahkan pihaknya mengagendakan kunjungan ke tokoh lainnya termasuk Gubernur dan Wakil Gubernur sebagai pembina politik di Bumi Anoa.
"Kebetulan beliau (NA) yang sudah terkomunikasi duluan. Kita mau dengar cerita-cerita inspirasi beliau, karena dahulu pernah membangun partainya dari nol di Sultra. Kami perlu itu sebagai partai politik baru," terang Aryo usai pertemuan dengan NA, Sabtu (7/2/2026).
Lanjut Aryo, pihaknya tidak melihat posisi perbedaan politik antar tokoh di Sultra. Baik imbas Pilkada 2024 lalu, maupun kepentingan 2029. Gema Bangsa perlu mendapat dukungan moril dari berbagai pihak, agar mampu meraih kepercayaan masyarakat menjadi wakilnya bahkan bisa mengusung calon kepala daerah kelak.
"Kami ingin Partai Gema Bangsa menjadi milik semua masyarakat Sultra, tidak terkecuali, dengan mempercayakan suaranya kepada calon anggota legislatif maupun kepala daerah dari Gema Bangsa. Silaturahmi kepada para tokoh kita lakukan tidak hanya ke pak Nur Alam, ke tokoh lainnya juga tentu saja," kata putra Kolaka ini.
Saat menerima pengurus Gema Bangsa Sultra, Nur Alam pun membagi pengalaman dan inspirasinya. Kata dia ada tiga hal utama untuk mengokohkan eksistensi partai di daerah. Ini mutlak dan sudah menjadi rumus sejak dahulu dia berpartai hingga kini.
Pertama, konsolidasi struktur dan kader. Kedua, kekuatan figur yang diusung. Ketiga, kemampuan finansial untuk pembiayaan operasional pemenangan.
"Tidak cukup kalau hanya satu dua unsur, ketiganya harus memadai. Ketua partai harus rela berkorban untuk itu," pesan gubernur dua periode itu.
Mengenai sikap politik Nur Alam dan Partai Gema Bangsa ke depan, kedua pihak tidak memberi informasi apapun.
Seperti yang publik ketahui, NA mendorong keluarganya pada kontestasi Pilkada 2024. Istrinya, Tina Nur Alam sebagai kandidat calon gubernur. Anaknya, Giona maju sebagai calon Walikota Kendari, serta Radhan Algindo calon Bupati Konawe Selatan. Namun ketiganya gagal meraih kursi kepala daerah. Nur Alam menyebut, Pilkada yang lalu adalah momentum awal bagi ketiganya.
Sementara Partai Gema Bangsa, baru akan bertarung pada Pemilu 2029 dan 2031 setelah melalui tahapan verifikasi partai tentu saja.
Redaksi


0Komentar