Sirene baru saja berhenti meraung ketika kami tiba di Markas Komando (Mako) Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Konawe Selatan, Senin (28/9/2026). Beberapa menit sebelum tim redaksi Karyantara melangkah masuk, satu dari segelintir armada tempur mereka baru saja melesat ke Desa Wawonggura, Palangga, berpacu dengan waktu memadamkan api yang kembali berkobar.
Kedatangan kami disambut hangat oleh Kepala Dinas, Saifuddin Suhri, S.Sos., yang langsung mengarahkan kami berbincang panjang dengan Sekretaris Dinas, Hariyanto Liambo, S.P., M.P.W.K. Dari perbincangan kami sekitar satu jam lebih inilah, tabir realitas di balik kantor "paling sibuk" di Konsel ini mulai terkuak.
Sepanjang tahun ini saja, setidaknya 40 kasus kebaaran yang telah terjadi sepanjang tahun ini. Didominasi kebakaran lahan bukaan, kebun, hingga kawasan hutan. Wilayah sebarannya membentang luas mulai dari Palangga, Tinanggea, hingga pelosok Laonti. Namun, ada kejanggalan yang mencolok: beberapa titik kebakaran terjadi berulang kali di lokasi yang persis sama.
Indikasi pembakaran dengan sengaja oleh oknum tak bertanggung jawab pun mengemuka. Fakta ini tentu menyisakan tanda tanya besar di benak publik: sejauh mana imbauan kepolisian yang terpampang di berbagai sudut strategis benar-benar ditegakkan dengan taji hukum di lapangan.
Ironi 451 Ribu Hektare dan Dua Armada
Bergeser ke sarana dan prasarana. Julukan "pahlawan segala kondisi" yang kerap disematkan warganet kepada pasukan damkar terasa getir jika menengok dapur yang mereka miliki Damkar Konsel. Hariyanto memaparkan, Konsel saat ini hanya ditopang 5 Pos UPT Damkar (Tinanggea, Angata, Laeya, Moramo, dan Ranomeeto) plus 1 Mako di Andoolo. Tiap UPT diisi satu regu beranggotakan enam personel yang bergantian berjaga 24 jam penuh.
Padahal, bentang daratan Konawe Selatan mencapai 451.420 hektare—sekitar 11,83 persen dari total luas daratan Sulawesi Tenggara. Berdasarkan regulasi teknis manajemen kebakaran perkotaan (Kepmeneg PU No. 11/2000 dan Permen PU No. 20/2009), radius jelajah proteksi satu pos pemadam idealnya maksimal 7,5 kilometer dalam konsep Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK).
Di Konsel, rasio ideal itu runtuh oleh jarak antar kecamatan yang menganga. Lebih mencengangkan lagi jika menengok jumlah unit armada. Kira-kira, berapa mobil pemadam (fire truck) yang siap siaga menjaga kabupaten seluas itu? Jawabannya mengejutkan: hanya dua unit
Lantas, dengan apa para petugas ini berjibaku menaklukkan si jago merah di medan terjal? Hariyanto—yang merupakan birokrat Pembina Tingkat I (IV/b)—mengungkapkan rahasia dapur mereka: gotong royong dan pompa punggung (jet shooter). Senjata andalan mereka kerap kali berwujud ransel tangki air berkapasitas 20 liter yang harus dipanggul manual menembus semak belukar.
Mereka menyadari keterbatasan yang dimiliki. Sehingga tentu memimpin satuan penyelamat ini perlu keterbukaan dengan berbagai peluang. Hal itu pula yang mendasari Kadis Saifuddin Suhri menginstruksikan timnyaa untuk membina remaja sekolah. Generasi muda dilatih teknik dasar pemadaman awal. Sejauh ini, rintisan relawan pelajar telah dibentuk di SMAN 1 Konsel dan SMAN 15 Konsel di Baito, dan akan terus diperluas.
Dalam sesi wawancara ini pula, Hariyanto Liambo yang juga merupakan mantan Camat Mowila dan Baito, meengungkapkan permohonan maaf kepada masyarakat konsel jika dalam pelayanannya belum dapat dimaksimalkan akibat kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki.
"Pada prinsipnya, api dapat melahap habis apa saja hanya dalam rentang 20 menit," ungkapnya lirih.
![]() |
Sekretaris Dinas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Konawe Selatan, Hariyanto Liambo, S.P., M.P.W.K. |
Damkar, Bukan Sekadar Urusan Api.
Dibalik itu semua, markas ini menyimpan rentetan cerita unik yang menggelitik tawa. Panggilan darurat yang masuk ke meja piket rupanya tak melulu soal amukan api. Sepanjang ia bertugas di damkar konsel ini, berbagai macam kejadian yang dimintakan bantuan kepada damkar banyak terjadi. Mulai dari tawon vespa, pelepasan cincin kawin yang menjepit bengkak jari seorang mempelai pria tepat usai akad nikah, hingga permintaan unik seorang siswa sekolah yang minta diantar ke Sekolah.
Hubungi 0821-1096-9668 - Call Center Damkar Konsel
Apakah jika dihubungi mereka menolak? Jawabannnya tidak.
Semuanya diladeni dengan ketulusan yang sama. Di pengujung obrolan, Hariyanto tersenyum mengingatkan satu hal yang sering luput disadari masyarakat: instansi mereka bernama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan. Menjinakkan kobaran api barulah separuh tugas; separuh lainnya adalah menyelamatkan segala macam urusan keselamatan jiwa—mulai dari yang genting hingga yang paling menguji kesabaran. Siapa yang baru tahu?
Laporan:Ardi Wiijaya
Editor: Kalpin


0Komentar