Penyerahan alat cetak batako manual dari Ketua Tim Pelaksana kepada pengelola Pondok Pesantren Abdurrahman bin Auf.

Selama puluhan tahun, sekam padi hanya punya satu takdir: dibakar atau paling-paling jadi campuran pupuk organik. Betapa ironis melihat petani membakar berton-ton sekam demi menghasilkan polusi udara. Disamping itu, sudah jadi rahasia umum. Bahwa tumpukan riset akademisi di Indonesia kerap berakhir tragis: tebal di atas kertas, berdebu di lemari arsip, dan tumpul saat berhadapan dengan kenyataan. Memanfaatkan kandungan silika hingga 90 persen pada abu sisa pembakaran gabah, tim Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo (UHO) berhasil meracik formula batako alternatif ramah biaya.


Guru Besar Konstruksi UHO Prof. Dr. Ir. Edward Ngii, S.T., M.T., menerjemahkan realita lapangan dan inovasi tepat guna dengan menerjunkan inovasi ke Pondok Pesantren Abdurrahman bin Auf Wahdah Islamiyah, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, melatih para santri mengolah limbah sekam menjadi material konstruksi kokoh untuk pembangunan sarana fisik secara mandiri. Pendekatannya memadukan rekayasa material berbasis limbah pertanian dan transfer alat kerja sederhana. 

Cetak biru dinding pesantren itu sebenarnya tidak bermula di Puuwatu, mengajari santri mencetak batako tanpa kepastian uji mutu sama saja menjadikan pondok pesantren sebagai kelinci percobaan program pengabdian. Prof. Edward Ngii memanfaatkan Laboratorium Teknik Sipil UHO menjadi menjadi kawah candradimuka bagi 15 mahasiswa KKN-Tematik diarahkan untuk membuktikan teori dari puluhan jurnal:  apakah kandungan silika abu sekam padi yang mencapai 80 hingga 90 persen betul-betul layak menggantikan semen?


Tim tidak berhenti di meja laboratorium saja. Selanjutya, tim diterjunkan menyisir sentra industri batako rumahan di Kota Kendari lewat agenda bertajuk "Ekspedisi Batako Kendari 2026". Setidaknya enam bengkel cetak batako di Kecamatan Puuwatu, Mandonga, Baruga, dan Poasia didatangi untuk membedah komposisi adonan, daya produksi harian, hingga kalkulasi harga jual yang berlaku di pasaran.


"Kami ingin mahasiswa tahu dulu bagaimana praktik di lapangan sebelum mengajari orang lain. Kalau tidak, yang kami ajarkan bisa jauh dari kenyataan," tegas Prof. Edward Ngii.

Puncaknya, pada 8 Agustus 2026, halaman Pesantren Abdurrahman bin Auf disulap menjadi area produksi. Tiga kelompok santri diajarkan meninggalkan kebiasaan mengaduk adonan secara asal. Mereka mempraktikkan rasio semen dan pasir dengan skala 1 : 6 dan 1 : 7, mengendalikan kelembapan adonan, hingga mengoperasikan alat pres manual. Hasilnya, Sebanyak 30 batako pertama berhasil dicetak hari itu tanpa kendala keretakan. Selanjutnya tim menyerahkan satu unit alat cetak batako manual beserta perlengkapannya kepada pihak pondok pesantren.



Pondasi keterampilan dasar ini menjadi pintu masuk penerapan abu sekam padi sebagai substitusi parsial semen. Abu sekam padi sisa pembakaran sawah sanggup dikonversi menjadi dinding asrama yang kokoh di tangan mereka sendiri. Melalui formula silika Prof. Edward Ngii, abu sisa pembakaran yang mencemari udara sawah dapat naik kasta menjadi dinding penyangga masa depan santri.



Siaran Pers : Program Pengabdian kepada Masyarakat Terintegrasi KKN-Tematik 2026 LPPM Universitas Halu Oleo

Editor: Redaksi