Penulis : Maul Gani

(Penulis adalah Penggiat Literasi/Pengurus Yasjati)


Terlihat nyata, bangsa  ini sedang berada di luar ruang kendali, sedang mengalami degradasi moral yang lumayan parah, koyak dan luka yang diakibatkan perpecahan sesama anak bangsa yang disebut Polarisasi.

Belum hilang, cerita cebong versus kampret, muncul lagi banyak istilah yang menjurus pada konflik yang berkepanjangan. Saling caci maki, lapor melaporkan sesama anak bangsa kian mewarnai jagat sosial media saat ini.

Polarisasi politik itu sendiri, merupakan trend negatif yang patut diduga diciptakan dan biarkan berlarut, dugaan ini menguat karena belum banyak tawaran rekonsiliasi besar yang dilakukan baik pemerintah, maupun kalangan oposisi dan yang konsen di luar pemerintahan.

Keresahan bernegara yang muncul akibat luka menaganga perbedaan, menurut sebagian ahli paling banyak ditemukan dalam konteks, partisipasi politik, kritik sosial dan tuntutan akuntabilitas pemerintahan yang sedang berkuasa.

Mengutip buku yang ditulis Sosiolog America, C Wright Mills berjudul The Power Elite secara gamblang mengurai bagaimana kelompok elit yang memiliki kendali signifikan atas lembaga politik dan ekonomi sering bekerja dengan mengabaikan kepuasan dan keresahan publik yang diperparah dengan ketidak Adilan konsentrasi atas kekayaan negara, bahkan dikorupsi.

Sekilas Wright Mills menekankan, bagaimana kekuasaan sebenarnya bisa mengatur dan mengendalikan keseluruhan elemen bangsa, termasuk dengan kebijakannya bisa mengurai dan menciptakan keselarasan kehidupan dalam suatu negara.

Faktanya, Indonesia dengan banyaknya kekayaan sumberdaya alam, menjadi pasar sekaligus sasaran tembak, lahirnya oligargi yang doyan menciptakan konflik untuk mengamankan bisnis.

Disaat yang bersamaan kritik sosial dianggap ancaman. Padahal kritik merupakan kekayaan konstitusi selama motifnya dilakukan dengan tetap mempertahankan norma dan dalam jalur konstitusional.

Lalu bagimana sesama kalangan bawah? Masyarakat kita memiliki kekuatan simpul yang jarang ditemukan di belahan bumi manapun, sebuah doktrinasi yang turun temurun dilakukan dan sifatnya positif. Gotong royong namanya. Merupakan kekayaan bangsa yang menjurus pada sikap mempererat tali persaudaraan dalam wadah yang tolong menolong.

Tanpa keraguan, kita menyebutnya karateristik bangsa Indonesia, bahkan dituangkan dalam Pancasila; sila ketiga yang berbunyi Persatuan Indonesia.

Di dalam gotong royong ada banyak nilai yang terkandung di dalamnya, seperti, menumbuhkan rasa dan sikap kekeluargaan, membina hubungan sosial dan menciptakan rasa kebersamaan.


Polarisasi Menggerus Karakteristik Bangsa

Lalu apa yang terjadi saat ini? Polarisasi sangat mengikis nilai dan karakteristik bangsa yang dikenal saling asih dan saling asuh, dengan adanya perpecahan dapat menimbulkan hilangnya empati.

Hal yang paling nampak adalah perpecahan sosial, ruang kolaborasi menjadi sulit ditemukan bahkan yang paling parah secara global akan merusak iklim investasi.  

Pemberitaan media massa dan media sosial yang terus menerus menyoroti sisi lain kehidupan kebangsaan kita, utamanya menyangkut konflik anak Bangsa tentu bukan sesuatu hal yang sehat.

Menarik apa yang disampaikan Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Dr Rima Agristina dalam kutipannya dialog bersama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) beberapa saat lalu.

Menurut Rima, Ketahanan Nasional tidak cukup diukur dari banyak dokumen, kebijakan yang dibuat, tetapi pengamatannya dilihat dari kehidupan sehari-hari, apakah ada saling menghormati dan apakah semua kelompok merasa dilindungi.

Dua titik berat, tentang saling menghormati dan saling melindungi antar kelompok masyarakat ini merupakan tanggung jawab besar dan tidak hanya menjadi tugas pemerintah tetapi dibutuhkan peran yang sangat kuat dari semua unsur masyarakat, untuk mengembalikan karakter bangsa Indonesia.

Kikisan dan perpecahan harus segera diselesaikan dan menciptakan kembali semangat kerjasama, saling bertoleransi antarkelompok masyarakat agama, adat dan budaya, mengembalikan nilai luhur dan dasar perjuangan mendirikan Bangsa.


Jalan Tengah dan Problem Solver 

Menjahit luka yang ditimbulkannya oleh adanya perpecahan dan Polarisasi, sepertinya bukan sesuatu yang sulit dilakukan, tinggal apakah kita mau lakukan atau tidak, jika mau maka langkah selanjutnya adalah segera lakukan.

Mental masyarakat Indonesia terjuji dalam sejarah. Bagaimana bangsa asing melakukan pecah belah yang sangat nyata melalui politik adu domba.

Dan yang paling membekas dalam sejarah adalah Devide et Impera (Pecah belah dan kuasai) tentu gelombang perpecahan jauh lebih dahsyat karena terorganisir secara terang-terangan.

Mental sejarah kita diuji, Bangsa ini bisa bersatu kembali dan berhasil mendirikan Bangsa yang besar bahkan jauh lebih kuat. Seluruh perbedaan dirajut karakter disatukan dalam satu bingkai yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jiwa optimis kita juga bisa dengan berani mengatakan bangsa ini akan baik-baik saja dan akan selalu baik. Kita menempuh jalan tengah dan selalu lahir sebagai pemberi solusi (problem solver). Menekan ego dan siap kembali dalam karakter gotong royong dan menjaga persatuan dan kesatuan.

‘Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan dimenangkan’  demikian kata Sutan Syahrir, yang membakar semangat kita untuk terus berjuang dan memenangkan kita sebagai karakter anak bangsa yang kuat dan berjiwa besar selayaknya pemenang sejati. (*)