KONAWE, KARYANTARA.COM - Sebagai Wartawan yang bertugas menghasilkan berita juga sebagai pencatat sejarah. tugas kami bukan sekadar merangkai kalimat menjadi berita, melainkan juga merawat ingatan sebagai pencatat sejarah. Ingatan pagi itu terpatri jelas pada lembaran kalender 10 April 2025 di momen pisah sambut. AKBP Noer Alam duduk santai menerima tamu perdananya. Puluhan wartawan yang sudah menanti dengan segudang pertanyaan. Momen tersebut berlangsung setelah prosesi pisah sambut dengan Kapolres lama, Ahmad Setiadi.

Atmosfer pertemuan perdana itu langsung diwarnai isu-isu hangat. Para awak media tanpa ragu melempar rentetan pertanyaan seputar pekerjaan rumah (PR) besar yang ditinggalkan pejabat terdahulu. Salah satu yang paling menyedot perhatian adalah konflik sengketa lahan di Tawamelewe—sebuah persoalan sensitif yang melibatkan warga transmigrasi asal Bali dengan penduduk lokal. Tak berhenti di situ, sejumlah kasus krusial lainnya turut dicecar para pewarta.

Menghadapi "hujan" pertanyaan tersebut, pimpinan kepolisian lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 2006 ini tidak terburu-buru merespons dengan nada defensif. Sebaliknya, Noer Alam menyunggingkan senyum khasnya, lalu berujar tenang:

"Beri saya waktu sebulan untuk membenahi internal, terutama menyamakan visi sesama anggota serta menata perwajahan kantor. Selanjutnya, masih banyak waktu untuk teman-teman wartawan. Kita bisa bertemu lagi dalam suasana resmi, atau sekadar duduk santai menikmati secangkir kopi."

Kata-kata itu bukan sekadar janji manis pemanis diplomasi. Noer Alam membuktikannya.

Langkah awalnya dimulai dari dalam: menata konsolidasi internal secara perlahan namun pasti. Setelah fondasi di tubuh kepolisian solid, ia mulai membuka ruang komunikasi yang intens dengan para jurnalis. Tak berhenti di situ, rajutan silaturahmi diperluas hingga menyentuh para tokoh adat, tokoh pemuda, serta memperkuat koordinasi lintas sektor. Hasilnya nyata—benang kusut konflik lahan Tawamelewe yang bertahun-tahun mengendap, akhirnya berhasil diurai dengan dingin dan bijak.

Di luar urusan penegakan hukum yang kaku, dinamika kepemimpinan suami dari Ny. Devi ini diwarnai dengan cara-cara yang membumi. Ia kerap menikmati kebersamaan dengan jajarannya lewat hobi motoran, menembus lintasan ekstrem dan menaklukkan tantangan alam Konawe.

Begitupun dengan pintu rumah dinasnya selalu terbuka lebar untuk siapa saja. Berbagai elemen masyarakat datang dan pergi bergantian. Karakter humanisnya kian terasa karena ia tipe pejabat yang nyaris tak pernah menutup diri—ponselnya bisa dihubungi kapan saja ketika publik membutuhkan kejelasan.

Sebab itulah, ketika roda mutasi berputar dan menugaskannya berpindah ke Kota Baubau, ada rasa berat yang menggantung di udara. Lelehan air mata tak hanya menetes dari pelupuk mata para anggotanya di korps kepolisian, tetapi juga dari para wartawan, aktivis, hingga elemen masyarakat yang selama ini intens berinteraksi dengannya.

Noer Alam meninggalkan kesan yang mendalam. Ia membuktikan bahwa kerendahan hati dan kesantunan adab tak sedikit pun mengikis wibawa serta ketegasannya. Dengan tongkat komando di tangannya, ia menyelesaikan tugas-tugas rumit dengan dingin, meninggalkan warisan kepemimpinan yang tegas, humanis, dan beradab di tanah Konawe.


Penulis: Kalpin