Catatan Kalpin

KENDARI, KARYANTARA.COM — Di balik riuhnya derap langkah gladi dan formalitas prosesi Serah Terima Jabatan (Sertijab) Pejabat Utama serta empat Kapolres dilingkup Polda Sulawesi Tenggara, Jumat lalu, ada episode-episode kecil yang kerap luput dari jepretan kamera. Cerita-cerita di balik layar yang justru menyimpan kehangatan dan makna mendalam.

Namun siang itu, jarum jam belum menunjukkan waktu salat Jumat. Masjid di kompleks Polda Sultra masih tergolong lengang, jemaah yang hadir bisa dihitung dengan jari. Di salah satu sudut ruang masjid, seorang perwira menengah tampak duduk khusyuk usai menunaikan salat tahiyatul masjid.

Dari kejauhan, perwira itu adalah AKBP Ahmad Mega Rahmawan, S.P., S.I.K., M.I.K Seseorang yang beberapa jam setelah salat Jumat akan resmi mengemban amanah baru sebagai Kapolres Konawe Kepulauan (Konkep).

Usai prosesi pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan digelar, ruang interaksi pun terbuka. Pendekatan khas insan pers dimulai. Meski wajah dan interaksi singkat di lapangan sudah pernah terjadi sebelumnya, memperkenalkan diri kembali menjadi langkah awal untuk membuka ruang perbincangan yang lebih cair.

Wajah wartawan yang familier di lingkungan Polda membuat komunikasi mencair dengan cepat. AKBP Mega kemudian membuka aplikasi Google Maps di ponselnya.

"Di mana letaknya bangunan Polres?" tanyanya membuka percakapan.

"Oh, bagian sini, Pak. Tidak jauh dari Pelabuhan Langara sekira tiga kilometer. Bangunan Polres ini berada di Desa Pasir Putih. 

Namun, pertanyaan berikutnya dari perwira bertali dua melati di pundak ini justru menarik perhatian. “Bagian mana masjid terdekat dari Polres?" tanyanya.

Sebuah pertanyaan sederhana, namun secara instingtif memantik sudut pandang berbeda. Di tengah kesibukan memikirkan pemetaan wilayah hukum dan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), hal pertama yang terlintas di benak sang pimpinan baru justru keberadaan rumah ibadah. Ponsel di genggamannya kemudian diperbesar layarnya, saya menunjuk titik lokasi masjid terdekat di Desa Pasir Putih.

Perbincangan tak berhenti pada urusan peta dan koordinat. Diskusi bergulir pada narasi historis dan identitas masyarakat Pulau Wawonii. Suku Wawonii, yang terbentuk dari akulturasi beragam kelompok suku di kawasan pesisir, menyimpan rekam jejak keagamaan dan sejarah yang kuat.

Di antaranya adalah kisah keteladanan sejarah, di mana Raja Lakidende dalam catatan lisan lokal pernah menimba ilmu mengaji di Wawonii. Tak hanya itu, dari pulau ini pula lahir rahim seorang qariah legendaris yang pernah mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional, almarhumah Hj. Siti Marlina.

Mendengar penuturan tersebut, AKBP Mega langsung menimpali, "Oh, pantas saja imam masjid di Polda ini berasal dari Wawonii."

"Iya Pak, itu keluarga saya," sahut saya berseloroh yang menyulut tawa. Di Wawonii, kelakar 'kita-kita ji yang baku sepupu' memang menjadi pelekat silaturahmi yang tak terpisahkan, bahwa keterikatan sosial warga di sana sangatlah erat. Mak tak heran di daerah ini paling kecil tingkat kriminalitasnya ketimbang 16 kabupaten/kota di Sultra.

Kehadiran pimpinan perdana di Polres Konawe Kepulauan tentu membawa harapan baru bagi masyarakat Wawonii. Harapan agar penegakan hukum dan pengayoman masyarakat berjalan selaras dengan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal.

Sebuah ungkapan bijak menyebutkan: “Jika ingin kemakmuran setahun, maka tanamlah benih. Jika ingin kemakmuran sepuluh tahun, tanamlah pohon. Namun, jika ingin kemakmuran seratus tahun bahkan hingga akhir zaman, maka benahilah keimanan dan ketakwaan masyarakatnya.”

Selamat bertugas di Pulau Wawonii, Konawe Kepulauan untuk AKBP Mega. Semoga kehadiran kepemimpinan bapak membawa keberkahan, kedamaian, serta makin menjadikan masyarakat di Bumi Wawonii makin memakmurkan masjid. 

Salam Berbudaya, Beriman, dan Bersahaja.