Penjara kerap menjadi tempat penyesalan datang terlambat, terutama ketika bayangan anak, istri, dan orang tua di rumah mulai menghantui benak para pelanggar hukum. Menjalani proses hukum bukan berarti kehilangan hak untuk berbenah di hadapan Sang Pencipta. Berangkat dari prinsip bahwa semua manusia setara di atas sajadah, jajaran Pidum Kejari Konawe memilih merangkul para tahanan lewat doa bersama.
Kejaksaan Negeri Konawe memperkuat pendekatan pembinaan mental bagi para tersangka pidana yang tengah menjalani masa penahanan, Kamis (10/9/2026). Dipimpin oleh Kasi Pidum Sahwal, agenda salat berjamaah dan tausiyah introspeksi diri digelar di dalam area sel untuk membekali tahanan agar tidak mengulangi tindak pidana usai menuntaskan proses peradilan.
Langkah pembinaan mental rohani tersebut dilakukan di sela-sela agenda penanganan berkas perkara pidana umum di Kejari Konawe. Kasi Pidum Kejari Konawe Sahwal menjelaskan, pendekatan persuasif ini ditujukan untuk membangun ketahanan mental para tahanan agar memiliki komitmen kuat memperbaiki diri sebelum perkara mereka dilimpahkan ke pengadilan.
Dalam arahannya, Sahwal secara lugas meminta setiap tahanan untuk introspeksi diri mengenai masa depan keluarga mereka. Ia menegaskan bahwa pintu pemulihan sosial di lingkungan masyarakat selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh memperbaiki perilakunya.
"Saat seseorang berbuat nekat, sering kali ia lupa memikirkan anak, istri, atau orang tua yang ditinggalkan. Padahal mereka yang menanggung beban paling berat di luar sana. Jadikan masa penahanan ini sebagai momentum berbenah. Sekalipun nama baik keluarga sempat tercoreng, keluarga tidak akan pernah menolak kehadiran kalian kembali jika kalian pulang sebagai manusia yang baru dan bermanfaat," tegasnya.
Sesi sore di sel Kejari Konawe itu berakhir tanpa seremoni. Bagi para tahanan yang tengah menghitung hari menuju persidangan, sujud bersama jaksa jelas bukan tiket kompromi untuk meringankan tuntutan hukum. Hukum pidana bekerja dengan angka pasal dan masa kurungan—dua hal yang tak bisa ditawar oleh doa. Namun pengingat dari balik jeruji hari itu menyasar titik paling rapuh dari tiap pesakitan: rasa bersalah pada orang-orang yang mereka tinggalkan di rumah. Ruang sidang akan menentukan berapa lama mereka terkurung, tetapi cara mereka bersikap di balik sel hari ini yang akan menentukan seperti apa rupa mereka saat pintu rumah kembali dibuka.
Penulis: Ardi Wijaya
Editor: Kalpin
0Komentar